Kamis, 27 Maret 2014

Euforia Selfie dalam Layar Digital

                
Semakin berkembangnya teknologi yang diikuti dengan inovasi teknologi telah melahirkan tren bagi masyarakat kontemporer. Misalnya tren selfie muncul ketika kamera, alat memotret mulai digeserkan posisinya dengan berkembangnya smartphone, alat yang dapat difungsikan untuk memotret sekaligus menyebarluaskannya ke media sosial. Dimana dalam hal ini smartphone, kamera, dan media sosial adalah satu kombinasi yang tidak bisa dipisahkan dan ini sebagai pendukung munculnya tren selfie.  Selfie sendiri merupakan perilaku memotret diri sendiri kemudian menyebarluaskannya ke media sosial (dalam kamus Oxford 2013).

       Perilaku memotret diri sendiri (selfie) tak ayal telah menyalurkan energi euforia (kesenangan yang berlebihan) bagi pelakunya. Dimana ketika orang sedang memotret dirinya sendiri,  dia pasti  melakukannya berulang kali hingga mendapatkan kepuasan tersendiri yang menurutnya hasil potretannya tersebut sesuai dengan keinginannnya (bagus). Kepuasaan tersebut adalah bentuk dari euforia selfie. Dengan ini dapat dikatakan bahwa orang memotret dirinya sendiri karena ingin menghibur dirinya sendiri di waktu luang maupun mengabadikan moment dan membagikannya ke orang lain melalui media sosial. Di samping itu aksi selfie ini banyak digemari orang karena hasil potret yang mereka lakukan bisa langsung dishare ke media sosial dan bisa mendapatkan respon positif dari para pengguna media sosial lainnya. Dengan ini akan mendatangkan manfaat bagi penggunanya, diantaranya adalah mereka menjadi dikenal oleh publik dan mendapatkan pengakuan tentang keberadaanya, keeksistensinya di ranah publik.

Namun disisi lain orang juga melakukan selfie karena ingin mendapatkan manfaat finansial. Dimana kata selfie ini cukup populer di kalangan masyarakat global bahkan dinobatkan sebagai word of the year di kamus bahasa inggris Oxford pada bulan November 2013. Kepopularan kata selfie ini tak ayal dijadikan sebagai ajang promosi oleh para pelaku bisnis. Contoh konkretnya Indonesia’s next top selfie yang diadakan oleh perusahaan telekomunikasi xl dan selfiology, smile nation yang diadakan oleh perusahaan telekomunikasi im3 sebagai strategi promosi bisnisnya.  Dengan ini orang pun berlomba-lomba melakukan aksi selfie di media sosial guna mendapatkan hadiah dari ajang promosi yang dilakukan oleh para pelaku bisnis tersebut. Di samping itu adanya publik figur, baik artis, pejabat maupun presiden menuliskan hastag (#) selfie pada akun media sosialnya menjadikan kata ‘selfie’ booming (heboh) dan menimbulkan budaya latah perilaku selfie pada masyarakat global saat ini. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa euforia (kesenangan) selfie ini mulai dirasakan dan dilakukan oleh para pengguna media sosial, tatkala ada aktor yang secara kolektif melakukan aksi selfie dan diikuti oleh para followersnya, serta adanya penggunaan kata selfie dalam penulisan berita, artikel di beberapa sumber media mengakibatkan kata selfie semakin populer di masyarakat global.

         Kepopuleran kata selfie ini juga disebabkan oleh banyaknya orang yang memperlihatkan dan membagikan tentang dirinya sendiri di media sosial. Dimana hal ini telah menciptakan dialog interaktif antara orang yang menshare fotonya dengan orang yang melihat maupun merespon foto yang dipost di media sosial. Dialog interaktif ini secara harfiah telah menghubungkan ikatan relasi antara ‘aku dan kamu’ dalam layar digital. Aku yang dimaksudkan disini adalah orang yang menshare foto selfienya ke media sosial, sedangkan kamu adalah orang yang merespon foto selfie yang dilihatnya di media sosial. Relasi aku dan kamu ini telah mengafirmasikan bahwa setiap orang yang melakukan aksi selfie memiliki kesatuan eksistensi di dalam layar digital. Dimana layar digital adalah tempat  bagi mediasi atau penampakan suatu objek  yang menghubungkan relasi aku dan kamu ke dalam dialog interaktif  di media sosial. Dengan ini menegaskan bahwa ikatan relasi aku dan kamu adalah proses berlangsungnya euforia selfie dalam layar digital yang dilakukan secara kontinyu oleh masyarakat global saat ini.

Fenomena selfie ini menekankan bahwa aksi selfie dilakukan itu hanya ingin orang tau (eksis) dan itu hanya akan dikenal orang dalam sebuah layar digital. Dan melalui sebuah layar digitallah yang menghubungkan relasi aku dan kamu ke dalam sebuah euforia selfie (kesenangan yang secara kontinyu dirasakan oleh banyak orang) di media sosial. Inilah yang kemudian mengubah peradaban manusia pada masa digitalisasi saat ini, yang mana pada zaman dahulu dengan meminjam istilah dari Descartes tentang i think, therefore i am (saya berpikir, karena itu saya) dan pada zaman sekarang menjadi i share, therefore i am (saya berbagi, karena itu saya). Dimana pada zaman digital saat ini orang secara terang-terangan mengeksplorasi dirinya, dengan cara membagikan tentang dirinya sendiri di media sosial. Dengan demikian dapat dipahami bahwa selama euforia selfie masih berlangsung dan menjadi trending topic di media sosial, dan pada saat itulah terjalin relasi aku dan kamu dalam layar digital untuk bereksistensi (pengakuan ada dan tiada) di media sosial.

Senin, 24 Februari 2014

POTRET PERUBAHAN SOSIAL-CULTURAL MASYARAKAT FLYOVER LEMPUYANGAN

                      




          Flyover Lempuyangan atau dikenal dengan jembatan layang Lempuyangan merupakan jalur alternatif transportasi, yang dibangun pada tahun 1988 dan semenjak itu daerah sekitarnya mulai mengalami perubahan secara signifikan, khususnya dalam pembangunan kota. Sebelum dibangun jembatan layang lempuyangan dulunya merupakan kios-kios. Setelah dibangunnya jembatan layang Lempuyangan daerah sekitarnya menjadi area bisnis. Selain itu di flyover Lempunyangan dijadikan sebagai tempat hiburan dan tempat berdagang, karena setiap sore tempat tersebut banyak dikunjungi anak-anak dan orang tuanya untuk melihat kereta api yang melintas disana dan para pedagang yang menjajakan dagangannya. Di samping itu flyover Lempuyan juga dijadikan sebagai taman mural, dimana para seniman mural dapat menyalurkan kreatifitasnya untuk melukis. 

       Perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar jembatan layang lempuyangan menuju ke arah modernisasi. Modernisasi merupakan   perubahan dari sistem ekonomi agraria menjadi sistem ekonomi industrialisasi, dengan harapan bahwa perubahan ini akan dapat menghasilkan perbaikan nasib. Proses modernisasi adalah bukan meniadakan perubahan besar dalam masyarakat, melainkan mempergunakan perubahan dan mengarahkannya pada kemajuan dan perbaikan nasib manusia. 

        Dimana demi hasil yang sebaik-baiknya manusia sendiri secara mental juga disiapkan. Salah satu langkah politik untuk mempercepat modernisasi ialah nasionalisme dan salah satu faktornya ialah pengambilan alih kekuasaan oleh militer. Militer merupakan kekuatan demokratisator yang besar dengan meniadakan tradisi yang menghambat modernisasi. Selain itu militer juga sebagai dinamisator dan stabilitsator dalam terbentuknya keseimbangan dan keteraturan sosial pada masyarakat. Modernisasi yang terjadi di sekitar jembatan layang Lempuyangan melalui perubahan-perubahan yang direncanakan pada saat orde baru tahun 90an yakni pembangunan lima tahun yang ke 5 (PELITA V). misalnya dibangunnya pertokoan, laboratium paramita, puskesmas danurejan 2, polsek DANUREJAN, dan direvisinya SLTP N 15 Yogyakarta.
       Pembangunan kota di sekitar jembatan layang lempuyangan  berjalan relatif cepat dan signifikan karena adanya pemgambilan alih kekuasaan oleh militer. Dan selain itu karena:

1. Penduduk asli flyover Lempuyangan banyak yang transmigrasi ke daerah lain. Sehingga pemerintah berinisiatif untuk membeli lahan tersebut guna membangun flyover lempuyangan dan menjadikan daerah tersebut sebagai pusat perekonomian dan pendidikan kota yogyakarta. Sehingga  banyak penduduk migran yang pergi ke yogyakarta untuk bekerja dan menutut ilmu. Dan seiring berjalannya waktu penduduk migran mulai memberikan pengaruh terhadap penduduk asli flyover Lempuyangan. Sehingga kultur masyarakat setempat mulai terkikis, yakni memudarnya sikap komunal dan tradisi gotong-royong, yang digantikan oleh  sikap materialistik dan individual.  

2. Struktur sosialnya berubah, misalnya struktur sosial terjalin antara pedagang, pemerintah dan pengunjung di flyover jembatan layang Lempuyangan. Mereka ini masing-masing mempunyai fungsi yang saling mendukung daerah tersebut menjadi tempat hiburan. Pedagang sebagai penyedia barang dan jasa, pemerintah kota sebagai pengawas sosial (pengendalian/ pengaturan sosial), sedangkan pengunjung sebagai penikmat hiburan.   
     
   Dan apabila salah satu dari pedagang, pemerintah kota atau pengunjung tidak ada, maka aktivitas yang berlangsung tidak akan berjalan. Misalnya kalau tidak ada pedagang pengunjung akan bosan dengan melihat kereta api tanpa ditemani makanan, sehingga tempat tersebut menjadi sepi. Dan apabila tidak ada pemerintah, tempat tersebut akan tidak teratur dan lingkungannya kotor karena sampah berserakan dimana-mana, sehingga tidak ada pengunjung atau pedagang yang datang untuk melihat kereta api disana. Sedangkan kalau tidak ada pengunjung tempat tersebut akan sepi dan bukan merupakan tempat hiburan.              

     Pembangunan kota merupakan upaya pemerintah untuk memperbaiki nasib masyarakatnya yakni memajukan daerahnya. Namun pembangunan kota ini merupakan awal terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat. Perubahan sosial berjalan sangat cepat sehingga membingungkan masyarakat yang menghadapinya, yang sering berjalan secara konstan. Ia memang terikat oleh waktu dan tempat. Akan tetapi karena sifatnya yang berantai, perubahan terlihat berlangsung terus, walau diselingi keadaan dimana masyarakat mengadakan reorganisasi unsur-unsur struktur masyarakat yang terkena perubahan. Misalnya norma-norma dalam lalu lintas di palang rel kereta api (kolong jembatan layang Lempuyangan). Sopan santun berlalu lintas yang menyangkut ketaatan pengemudi dan pejalan kaki, pada peraturan lalu lintas sering dilanggar. Pada umumnya terlihat adanya suatu kecenderungan untuk melanggar peraturan-peraturan tersebut, padahal peraturan bertujuan untuk menjaga keselamatan masyarakat, termasuk para pengemudi dan pejalan kaki.


           Seiring dengan berjalannya waktu, pola-pola masyarakat juga ikut berubah. Misalnya masyarakat yang berada di flyover jembatan layang Lempuyangan yakni terjalinnya hubungan patembayan antar para pedagang, tingkat konsumsi masyarakatnya meningkat karena terdapat banyak pedagang yang bervariasi untuk menjajakan dagangannya, kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya, tidak adanya keteraturan berlalu lintas karena terdapat dua pertigaan dengan lampu lalu lintasnya  tidak berfungsi lagi yang menyebabkan kemacetan, kecelakaan, dan meningkatkan kriminalitas.


DAFTAR PUSTAKA

Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Susanto, S. Astrid.  1977. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Bandung: Binacipta.

Wiji, Utomo Yunanto. 2007. Taman Mural di Kolong Jembatan Layang Lempuyangan. www.YogYes.com 

Resource Tanaman Toga Padukuhan Grujugan, Kabupaten Bantul Sebatas Obat Alternatif


         Pada dasarnya setiap makhluk hidup termasuk manusia cenderung untuk mempertahankan hidupnya. Apabila menderita sakit, maka akan berusaha mengobati penyakit yang dideritanya, baik pengobatan tradisional maupun modern. Pengobatan tradisional salah satunya menggunakan tanaman toga (obat). Pengetahuan tentang tanaman obat ini merupakan warisan budaya bangsa secara turun-temurun.
Di padukuhan Grujugan kabupaten Bantul tanaman toga seperti kencur, kunir, temulawak, temu ireng dan sebagainya dapat dijumpai di lahan perkarangan dan kebun. Warga dusun grujugan telah membudidayakan tanaman obat sejak tahun 1990an. Budidaya tanaman toga ini membuahkan hasil dengan dusun Grujugan memenangkan lomba tanaman toga pada tahun 1995 juara 1 tingkat kabupaten Bantul dan tahun 1997  juara 3 di tingkat provinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Dan  semenjak itu mereka turun-temurun membudidayakan tanaman obat untuk diolah menjadi jamu guna memenuhi kebutuhan keluarga, baik mengobati penyakit maupun menjualnya ke pengempul.
Namun seiring berjalannya waktu warga dusun Grujugan mulai mengenal obat-obatan modern lewat JAMSOSTEK dan JAMKESMAN dari Pemerintah. Di mana pada masa itu lagi gencar-gencarnya dilaksanakan PELITA (pembangunan lima tahun) guna meningkatkan perekonomian negara. PELITA merupakan langkah untuk memodernisasi bangsa Indonesia menjadi lebih maju, yang berdampak pada penggunanaan obat-obatan modern di pedesaan, seperti dusun grujugan. Namun di sisi lain warga Grujugan juga tidak meninggalkan obat-obat tradisional, yang diketahui bahwa padukuhan Grujugan dulu pernah meraih kemenangan dalam lomba tanaman toga ditingkat kabupaten Bantul dan provinsi DIY. Di mana untuk memenangkan lomba tersebut, warga padukuhan Grujugan di dorong untuk menanam tanaman toga yang berdampak pada penumbuhkan kebiasaan untuk menanam tanaman toga. Alhasil sampai sekarang tanaman obat banyak dijumpai di perkarangan rumah dan kebun. Namun kurangnya kesadaran masyarakat akan membudidayakan tanaman toga untuk melakukan produktivitas dalam bentuk industri dan kurangnya dorongan motivasi dari Pemerintah setempat menjadikan tanaman obat di perkarangan warga grujugan hanya sebatas sebagai obat alternatif tatkala obat modern tidak dapat menyembuhkan penyakit.