Pada dasarnya setiap makhluk hidup termasuk manusia cenderung untuk mempertahankan hidupnya. Apabila menderita sakit, maka akan berusaha mengobati penyakit yang dideritanya, baik pengobatan tradisional maupun modern. Pengobatan tradisional salah satunya menggunakan tanaman toga (obat). Pengetahuan tentang tanaman obat ini merupakan warisan budaya bangsa secara turun-temurun.
Di
padukuhan Grujugan kabupaten Bantul tanaman toga seperti kencur, kunir,
temulawak, temu ireng dan sebagainya dapat dijumpai di lahan perkarangan dan
kebun. Warga dusun grujugan telah membudidayakan tanaman obat sejak tahun
1990an. Budidaya tanaman toga ini membuahkan hasil dengan dusun Grujugan
memenangkan lomba tanaman toga pada tahun 1995 juara 1 tingkat kabupaten Bantul
dan tahun 1997 juara 3 di tingkat
provinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Dan semenjak itu mereka turun-temurun
membudidayakan tanaman obat untuk diolah menjadi jamu guna memenuhi kebutuhan
keluarga, baik mengobati penyakit maupun menjualnya ke pengempul.
Namun
seiring berjalannya waktu warga dusun Grujugan mulai mengenal obat-obatan
modern lewat JAMSOSTEK dan JAMKESMAN dari Pemerintah. Di mana pada masa itu
lagi gencar-gencarnya dilaksanakan PELITA (pembangunan lima tahun) guna
meningkatkan perekonomian negara. PELITA merupakan langkah untuk memodernisasi
bangsa Indonesia menjadi lebih maju, yang berdampak pada penggunanaan
obat-obatan modern di pedesaan, seperti dusun grujugan. Namun di sisi lain warga
Grujugan juga tidak meninggalkan obat-obat tradisional, yang diketahui bahwa padukuhan Grujugan dulu pernah meraih kemenangan dalam lomba tanaman toga ditingkat
kabupaten Bantul dan provinsi DIY. Di mana untuk memenangkan lomba tersebut,
warga padukuhan Grujugan di dorong untuk menanam tanaman toga yang berdampak pada penumbuhkan
kebiasaan untuk menanam tanaman toga. Alhasil sampai sekarang tanaman obat
banyak dijumpai di perkarangan rumah dan kebun. Namun kurangnya kesadaran
masyarakat akan membudidayakan tanaman toga untuk melakukan produktivitas dalam
bentuk industri dan kurangnya dorongan motivasi dari Pemerintah setempat
menjadikan tanaman obat di perkarangan warga grujugan hanya sebatas sebagai obat
alternatif tatkala obat modern tidak dapat menyembuhkan penyakit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar