Senin, 24 Februari 2014

Resource Tanaman Toga Padukuhan Grujugan, Kabupaten Bantul Sebatas Obat Alternatif


         Pada dasarnya setiap makhluk hidup termasuk manusia cenderung untuk mempertahankan hidupnya. Apabila menderita sakit, maka akan berusaha mengobati penyakit yang dideritanya, baik pengobatan tradisional maupun modern. Pengobatan tradisional salah satunya menggunakan tanaman toga (obat). Pengetahuan tentang tanaman obat ini merupakan warisan budaya bangsa secara turun-temurun.
Di padukuhan Grujugan kabupaten Bantul tanaman toga seperti kencur, kunir, temulawak, temu ireng dan sebagainya dapat dijumpai di lahan perkarangan dan kebun. Warga dusun grujugan telah membudidayakan tanaman obat sejak tahun 1990an. Budidaya tanaman toga ini membuahkan hasil dengan dusun Grujugan memenangkan lomba tanaman toga pada tahun 1995 juara 1 tingkat kabupaten Bantul dan tahun 1997  juara 3 di tingkat provinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Dan  semenjak itu mereka turun-temurun membudidayakan tanaman obat untuk diolah menjadi jamu guna memenuhi kebutuhan keluarga, baik mengobati penyakit maupun menjualnya ke pengempul.
Namun seiring berjalannya waktu warga dusun Grujugan mulai mengenal obat-obatan modern lewat JAMSOSTEK dan JAMKESMAN dari Pemerintah. Di mana pada masa itu lagi gencar-gencarnya dilaksanakan PELITA (pembangunan lima tahun) guna meningkatkan perekonomian negara. PELITA merupakan langkah untuk memodernisasi bangsa Indonesia menjadi lebih maju, yang berdampak pada penggunanaan obat-obatan modern di pedesaan, seperti dusun grujugan. Namun di sisi lain warga Grujugan juga tidak meninggalkan obat-obat tradisional, yang diketahui bahwa padukuhan Grujugan dulu pernah meraih kemenangan dalam lomba tanaman toga ditingkat kabupaten Bantul dan provinsi DIY. Di mana untuk memenangkan lomba tersebut, warga padukuhan Grujugan di dorong untuk menanam tanaman toga yang berdampak pada penumbuhkan kebiasaan untuk menanam tanaman toga. Alhasil sampai sekarang tanaman obat banyak dijumpai di perkarangan rumah dan kebun. Namun kurangnya kesadaran masyarakat akan membudidayakan tanaman toga untuk melakukan produktivitas dalam bentuk industri dan kurangnya dorongan motivasi dari Pemerintah setempat menjadikan tanaman obat di perkarangan warga grujugan hanya sebatas sebagai obat alternatif tatkala obat modern tidak dapat menyembuhkan penyakit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar